Tuesday, 27 January 2015

Media Pembelajaran SMB Boneka Jari

Kain fanel dapat diubah menjadi boneka jari. Dengan sedikit sentuhan, potongan kain fanel yang berwarna-warni digunting sesuai kebutuhan kemudian disatukan dengan cara dijahit menjadi sebuah boneka mini yang diletakan di jari-jari anda. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat media ini sangat murah. Mencari bahan untuk membuat boneka jari pun juga sangat mudah. Cocok untuk media belajar anak usia dini (AUD) dan SD.

Melalui media boneka jari, cerita-cerita yang anda sampaikan akan menjadi lebih hidup. Pendengar pun mudah untuk memperhatikan cerita sambil melihat boneka-boneka jari yang memerankan tokoh di cerita-cerita tersebut. Mau tahu cara memainkan boneka jari, lihat gambar di bawah ini.

Cara memainkan boneka jari sangat mudah. Pemain dapat menggerakan jari ke arah depan atau belakang, kanan atau kiri, serta membuat boneka jari ini tampak berkomunikasi dengan baik. Di bawah ini saya berikan contoh cerita yang dimainkan dengan boneka jari.

Selamat membuat media pembelajaran boneka jari. Setelah itu, selamat mempraktikkan.

========================================================================

Adik-adik  Sekolah Minggu Buddha, kali ini kakak akan mengkisahkan Jataka yang bertemakan persahabatan sejati. Selamat mengikuti kisah jataka ini


Karya Ni Made dan Paramita


KURUṄGA-MIGA-JĀTAKA


 [Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor Rusa Kurunga dan tinggal di dalam hutan, di suatu semak belukar dekat sebuah danau. Tidak jauh dari danau yang sama tersebut, bertengger seekor burung pelatuk di atas sebuah pohon, dan di danau itu berdiam seekor kura-kura. Mereka bertiga menjadi sahabat dan tinggal bersama dengan akrab.

Ketika seorang pemburu berkeliling di dalam hutan itu, dia melihat jejak kaki Bodhisatta yang turun menuju ke air, dan dia pun memasang perangkap dari kulit, yang kuat seperti rantai besi, kemudian pergi.

Pada penggal awal malam hari itu, Bodhisatta turun untuk minum air dan dia pun terjerat di dalam perangkap itu: dia berteriak keras dan panjang. Mendengar itu, burung pelatuk terbang ke bawah dari atas pohonnya dan kura-kura pun keluar dari dalam air, berunding tentang apa yang harus dilakukan.

Kata burung pelatuk kepada kura-kura, “Teman, kamu punya banyak gigi–gigitlah perangkap ini, sedangkan saya akan pergi dan memastikan pemburu itu tidak datang. Jika kita berusaha sedaya upaya kita, maka teman kita tidak akan kehilangan nyawanya.” Untuk membuat ini lebih jelas, dia mengucapkan bait pertama:

Kemarilah, Kura-kura,
koyaklah perangkap kulit itu dan gigitlah sampai putus,
dan pemburu itu, saya yang akan mengurusnya,
dan menjauhkannya darimu.
Kura-kura mulai menggerogoti tali kulit itu, burung pelatuk tersebut pun pergi ke tempat tinggal sang pemburu. Pada fajar hari, keluarlah si pemburu dengan pisau di tangan. Segera setelah melihat sang pemburu mulai melangkah, burung itu berteriak dan mengepakkan sayapnya kemudian menyerangnya di bagian wajah ketika dia baru keluar dari pintu depan. “Burung pembawa sial menyerangku!” pikir pemburu itu, dia pun kembali dan berbaring sebentar.

Kemudian dia bangkit lagi dan membawa pisaunya. Burung itu pun berpikir dalam hatinya, “Tadi dia keluar dari pintu depan, sekarang dia pasti akan keluar dari belakang:” dan dia pun duduk di belakang rumah. Sang pemburu pun memikirkan hal yang sama, “Ketika tadi keluar dari pintu depan, saya menemui pertanda buruk, sekarang saya akan keluar dari belakang!” dan demikianlah yang dilakukannya. Tetapi burung itu berteriak kembali dan menyerang wajahnya. Mendapati dirinya kembali diserang oleh burung pertanda buruk, sang pemburu pun berseru, “Mahkluk ini tidak membiarkanku keluar!” dan berbaliklah dia, kemudian berbaring sampai matahari terbit. Ketika matahari telah terbit, dia membawa pisaunya dan mulai lagi.

Burung pelatuk segera mendatangi teman-temannya. “Si pemburu sedang menuju ke sini!” teriaknya. Waktu itu, kura-kura telah menggerogoti semua tali kulitnya, tinggal satu yang keras: gigi-giginya kelihatan seperti akan tanggal semua dan mulutnya berlumuran darah. Bodhisatta melihat pemburu itu datang seperti kilat, dengan pisau di tangan: dia pun memutuskan tali tersebut dan lari masuk ke dalam hutan, burung pelatuk terbang bertengger di atas pohonnya, tetapi kura-kura sangat lemah sehingga dia hanya terbaring di sana. Sang pemburu memasukkannya ke dalam sebuah kantung dan mengikatnya di pohon.

Bodhisatta melihat kura-kura tertangkap dan bertekad untuk menyelamatkan nyawa temannya. Maka dia membiarkan pemburu itu melihatnya dan berpura-pura seakan dia lemah. Sang pemburu melihatnya dan mengiranya lemah, dia pun mencabut pisau dan mengejarnya. Bodhisatta menjaga jaraknya dari sang pemburu dan memancingnya masuk ke dalam hutan. Ketika melihat bahwasanya mereka telah berlari jauh, dia meloloskan diri darinya dan, dengan tangkasnya dari arah lain, dia keluar mengambil kantong tersebut dengan tanduknya, melemparnya ke tanah dan mengoyaknya, kemudian membiarkan kura-kura keluar. Dan burung pelatuk pun terbang turun dari pohon.

Kemudian Bodhisatta pun berkata demikian kepada mereka, “Nyawaku telah kalian selamatkan, dan kalian telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai sahabat. Sekarang pemburu pasti akan datang dan memburu kalian. Jadi kalian; Temanku Burung Pelatuk, pergilah ke tempat lain dengan anak-anakmu, dan Anda, Temanku Kura-kura, menyelamlah ke dalam air.” Mereka pun melakukan demikian.

Dia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya mengulangi bait kedua berikut:—

Kura-kura masuk ke dalam danau,
rusa masuk ke dalam hutan, dan dari pohon,
burung pelatuk membawa anak-anaknya terbang pergi.
Sang pemburu kembali dan tidak melihat salah satu pun dari mereka. Dia melihat kantongnya robek, memungutnya dan pulang ke rumah dengan sedih. Dan ketiga sahabat itu pun hidup dengan persahabatan mereka yang erat sepanjang hidup mereka, dan kemudian meninggal sesuai dengan perbuatan mereka.
____________________

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah sang pemburu, Sāriputta adalah burung pelatuk, Moggallāna adalah kura-kura, dan Aku adalah rusa.”


Sumber : Indonesia Tipitaka Center

Media Pembelajaran SMB Boneka Jari Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Sugianto Vijjayasena