Thursday, 18 June 2015

Memanfaatkan Wayang Kulit Sebagai Media Pembelajaran Kreatif

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas pemanfaatan wayang golek sebagai media pembelajaran kreatif. Sebuah seni tradisional yang terkenal di masyarakat Pasundan di Jawa Barat menjadi kekayaan bangsa yang harus di jaga dan dilestarikan, salah satunya melalui pendidikan. Hal ini ditandai dengan kemunculan Wayang Techno CDS di Bandung. Nah, kali ini kita akan bahas pemanfaatan wayang kulit sebagai media pembelajaran kreatif. Cocok untuk media belajar anak usia dini (AUD) dan SD.


Tidak dapat dipungkiri, wayang kulit telah menjadi ikon wisata budaya bagi bangsa Indonesia di mata dunia. Salah satu alasan wisatawan datang ke Indonesia adalah untuk menyaksikan pertunjukan wayang bahkan mempelajarinya. Pada tanggal 7 November 2003, pertunjukan wayang kulit oleh UNESCO dijadikan sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Ini membuktikan bahwa wayang kulit adalah syarat dengan nilai seni tinggi. 

Pertunjukan atau pagelaran wayang kulit yang dimainkan di belakang kelir juga menjadi media penyampai pesan yang sangat efektif. Melalui kreativitas dalang dalam memainkan wayang kulit, pesan tersampaikan dengan baik kepada para penonton. Beberapa dalang wayang kulit di Jawa yang terkenal antara lain: Ki Manteb Sudarsono, Ke Enthus Susmono, dan Ki Anom Suroto.

Lakon yang biasa dibawakan dalang dalam pementasan wayang kulit bersumber dari epik Mahabarata antara kelompok Pandawa dan Kurawa; dan Ramayana dengan cerita terkenal Rama - Shinta. Kadangkala dalang juga mementaskan lakon carangan, sebuah cerita yang disusun dari sejarah tanah jawa maupun cerita rakyat. Salah satu yang menarik dari wayang kulit di Jawa adalah tokoh Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Tokoh wayang yang memiliki karakter seperti rakyat biasa yang sering menghibur penonton dengan tingkah laku yang kocak, namun kadangkala mampu menyampaikan pesan-pesan bijak pada ksatria Pandawa.

Dalam dunia pendidikan, guru bisa belajar pada cara dalang dalam memainkan wayang kulit menjadi tokoh yang berkarakter dan mampu membawa penonton hanyut dalam cerita yang dimainkan dalang. Guru bisa memanfaatkan wayang kulit sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan materi. Keahlian guru memainkan wayang kulit menjadi prasyarat yang harus dimiliki, sehingga wayang bergerak dengan luwes. Selain itu, guru juga perlu mengerti karakter tokoh wayang yang dimainkan serta keahlian yang dimilikinya. Memanfaatkan wayang sebagai media pembelajaran kreatif merupakan bagian dari cara menjaga dan melestarikan serta mengembangkan seni dan budaya kebanggaan bangsa di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. 

Ada cara lain bagi guru dalam memanfaatkan wayang kulit sebagai media pembelajaran, misalnya dengan download lakon wayang yang sudah banyak beredar di youtube. Lakon yang dipilih tentu yang memiliki hubungan dengan tema, materi yang akan dibahas di kelas. Melalui bantuan teknologi, wayang menjadi mudah untuk digunakan sebagai media pembelajaran.

Jayalah seni dan budaya bangsa. Cintai dan kagumi seni warisan para leluhur ini dengan penuh dedikasi. Majulah pendidikan bangsa kita.



Memanfaatkan Wayang Kulit Sebagai Media Pembelajaran Kreatif Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Sugianto Vijjayasena